20.9.09

[media-jambi] Selamat Hariraya Idul-Fitri 1430 H.

Assalamu'alaikum wr. wb. Buat teman-teman yang merayakannya: "Selamat Hariraya Idul-Fitri 1430 H. Semoga kita berhasil kembali ke kesucian fitrah dan amalan baik kita diterima oleh Allah swt. Minal 'Aidin wal-Faizin wal-Maqbulin. Mohon maaf atas segala khilaf..." Terimakasih

Salam

Abdul Rohim

http://media-klaten.blogspot.com/
http://seizetheday-cloth.blogspot.com/

Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

------------------------------------

http://media-jambi.blogspot.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-jambi/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-jambi/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:media-jambi-digest@yahoogroups.com
mailto:media-jambi-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
media-jambi-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

20.8.09

[media-jambi] Selamat Jalan Wartawan Pejuang

Selamat Jalan Wartawan Pejuang

*Bonnie Triyana*

# Sejarawan-cum-wartawan. Sahabat muda Joesoef Isak. Bersama Max Lane
menyunting buku /Liber Amicorum: Persembahan buat 80 Tahun Joesoef Isak/

Awal 1978, dalam status tahanan kota, Joesoef menerima sepucuk surat
dari Markas Kopkamtib untuk meminta kesediaannya diwawancarai oleh empat
wartawan Amerika Serikat. Tapi, berhari-hari ditunggu, empat wartawan
itu tak kunjung datang. Joesoef penasaran. Ia nekat menyambangi Kedutaan
Besar AS untuk menanyakan kesahihan surat tersebut.

Ternyata surat salah info. Fred Cofey, Direktur USIS, mengatakan orang
yang ingin bertemu bukanlah wartawan melainkan Patricia Derien, Deputy
Secretary of State for Human Right sekaligus utusan pribadi Presiden
Jimmy Carter. Pada Sabtu, hari H pertemuan (Joesoef lupa tanggalnya),
Joesoef diminta menunggu Derien di kantor USIS. Pada saat yang sama
Derien, didampingi Duta Besar AS Edward Masters, sedang bertemu dengan
Presiden Soeharto di Istana Merdeka. Pulang dari Istana, Derien langsung
menjumpai Joesoef. "You tell me everything! There is nothing to hide. In
fact I know all what happened here...," ujar Derien kepada Joesoef. Ia
meminta Derien membantu upaya pembebasan tahanan politik di Pulau Buru
dan beberapa tempat lain di Indonesia.

Beberapa bulan setelah pertemuan itu, pemerintah Soeharto pun
memulangkan para tahanan politik (tapol) secara bertahap hingga akhir
1979. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer dan wartawan Hasjim Rachman--kelak
bersama Joesoef mendirikan penerbit Hasta Mitra--adalah tapol terakhir
yang dibebaskan dari Pulau Buru. Trio pendiri Hasta Mitra itu kini telah
berpulang semua. Joesoef Isak wafat pada Sabtu (15 Agustus) pekan lalu
menyusul dua karibnya, Hasjim Rachman (wafat 1999) dan Pramoedya Ananta
Toer (wafat 2006).

Mantan pemimpin redaksi koran /Merdeka/ dan pernah jadi Sekretaris
Jenderal Persatuan Wartawan Asia-Afrika itu wafat tepat sebulan setelah
hari ulang tahunnya yang ke-81. Tahun lalu para sahabatnya
menyelenggarakan pesta ulang tahun Joesoef yang ke-80 di Teater Kecil,
Taman Ismail Marzuki. Ratusan undangan, dari aktivis, penulis, wartawan,
pengusaha, sampai mahasiswa, menghadiri hajatan tersebut. Joesoef pun
kelihatan cerah semringah. Namun, beberapa minggu setelah acara, kondisi
kesehatannya menurun. Keluarganya membawa dia ke Singapura untuk
memeriksakan kesehatannya.

Empat bulan sebelum wafat, ia mengatakan kepada saya bahwa kondisinya
mulai membaik setelah menjalani pengobatan alternatif. "Aku berobat ke
sinse di Gunung Sahari, Bung. Dia cuma tekan jempolku saja. Tokcer!
Sekarang aku bisa tidur nyenyak dan sesak napas agak mendingan,"
katanya. Obat mujarab lain baginya adalah kerja dan diskusi. Ia seakan
lupa akan sakitnya kalau sudah duduk di depan komputer dan tetap
melakukan pekerjaannya sebagai editor dan penulis. "Aku ini sehat kalau
banyak pekerjaan dan berdiskusi, Bung," katanya sambil terkekeh. Pada
usia berkepala delapan, ia masih sanggup menyunting naskah sekaligus
menulis kata pengantar untuk beberapa buku terbitan Hasta Mitra.

Lelaki kelahiran Kampung Ketapang, Jakarta Pusat, 15 Juli 1928, itu
adalah editor karya-karya maestro sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Ada
cerita menarik di balik penerbitan buku /Nyanyi Sunyi Seorang Bisu/
karya Pram. Awalnya Joesoef ragu menerbitkan naskah itu. "Jangankan yang
beginian, novel yang fiktif saja dibredel Orba," kata Joesoef. Hasjim
Rahman, yang biasanya selalu bilang "aku tidak takut pada Jaksa Agung",
kali itu pun ikutan /ngeper/ untuk menerbitkannya.

Joesoef tak kehilangan akal. Melalui sejarawan Henk Maier, buku itu
diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan diterbitkan di Belanda dengan
judul /Lied van Een Stomme/. Setelah terbit di sana, naskah baru terbit
dalam bahasa Indonesia dengan judul /Nyanyi Sunyi Seorang Bisu/. Tapi,
baru sepuluh hari terbit, Jaksa Agung langsung membredelnya. "Itu rekor
pembredelan tercepat. Biasanya sebulan," kenang Joesoef.

Buku terakhir yang sempat disuntingnya sebelum wafat adalah /Memoar Ang
Yan Goan/, pemimpin redaksi koran /Sin Po/. Ia juga menulis kata
pengantar buat buku itu. Sama seperti Joesoef, Yan Goan terkena imbas
pergolakan politik 1965 dan terpaksa menetap di Kanada bersama anaknya.
Joesoef ditahan di penjara Salemba selama sepuluh tahun (1967-1977) atas
tuduhan terlibat dalam peristiwa 1965. Sampai ia keluar dari penjara,
tuduhan tersebut tak pernah bisa dibuktikan, apalagi Joesoef belum
pernah disidangkan.

Kariernya sebagai wartawan bermula di /Berita Indonesia/, surat kabar
/republikein/ pertama yang didirikan oleh beberapa tokoh pers nasional,
antara lain S. Tahsin. Pada 1949, B.M. Diah membeli /Berita Indonesia/
dan menggabungkannya dengan koran /Merdeka/ yang berdiri pada 1 Oktober
1945. Otomatis ia pun jadi wartawan /Merdeka/ dan merintis karier di
sana sampai posisi pemimpin redaksi. Berhenti dari /Merdeka/, Joesoef
terpilih sebagai Sekjen Persatuan Wartawan Asia-Afrika.

Joesoef Isak terkenal sebagai sosok wartawan yang teguh memegang prinsip
kemerdekaan berpendapat. Ia punya banyak kawan diskusi, mulai wartawan,
aktivis, sampai pensiunan jenderal pun datang ke rumahnya untuk
berdiskusi. Joesoef bersahabat dengan siapa saja, tak peduli apa
ideologinya. Semasa hidupnya, ia berkawan dengan Soebadio Sastrosatomo
dan Adam Malik, dua tokoh bangsa yang punya keyakinan politik berbeda
dengan Joesoef.

Semasa hidupnya, ia selalu mewanti-wanti agar anak-anak muda tidak
melanjutkan konflik masa lalu. "Buat apa merelevankan konflik masa lalu?
Untuk membangun Indonesia, kita harus terus menatap ke depan. Jadikan
sejarah sebagai pelajaran," kata dia. Menurut dia, baik Soekarno, Hatta,
Sjahrir, maupun Tan Malaka sama-sama memiliki tujuan memajukan kehidupan
rakyat Indonesia walaupun mereka melakukan dengan jalannya
sendiri-sendiri. "Generasi muda harus melanjutkan kerja-kerja mereka,
buang keburukannya, ambil sisi positifnya," pesan dia.

Atas jasa-jasanya di dalam memperjuangkan kebebasan berpendapat, ia
dianugerahi beberapa penghargaan internasional, antara lain Jeri Laber
Award (2004) dari International Freedom to Publish Committee, Amerika
Serikat. Lantas pada 2005 Joesoef, bersama Goenawan Mohamad, menerima
Wertheim Award dari Belanda, dan pada 2006 mendapat penghargaan
"Chevalier dans l'Ordre des Arts et des Lettres" dari pemerintah Prancis.

Tiga pekan lalu, kami masih berjumpa di Komunitas Utan Kayu dalam
diskusi dan peluncuran buku karya Soemarsono, /Revolusi Agustus/,
terbitan Hasta Mitra. Pertemuan berlanjut ketika saya menyambanginya dua
hari kemudian untuk membicarakan penerbitan buku /Banten Seabad Setelah
Multatuli/ karya Ir Djoko Sri Moeljono, di mana saya menulis kata
pengantarnya. Buku ini molor terbit sampai dua tahun dan kami berencana
mencetaknya pada September mendatang. Menurut rencana, saya harus
menemuinya lagi setelah 17 Agustus untuk mendiskusikan rencana teknis
percetakan buku itu.

Rencana tinggal rencana. Sabtu (15 Agustus) dinihari pukul 01:30, saya
ditelepon oleh Desantara, putra bungsu Joesoef Isak, mengabarkan bahwa
ayahnya telah tiada. Saya kaget, tak percaya Pak Ucup pergi begitu
mendadak, terlebih sehari sebelumnya ia masih sempat datang ke redaksi
majalah /Tempo/ untuk diwawancarai. Kerja belum selesai, belum apa-apa.
Tapi Pak Ucup sudah punya arti bagi bangsa Indonesia. Ia telah berjuang,
sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Selamat jalan, Bung Joesoef Isak! *

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/08/19/Opini/krn.20090819.174210.id.html
http://media-klaten.blogspot.com/
http://seizetheday-cloth.blogspot.com/


__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com

------------------------------------

http://media-jambi.blogspot.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-jambi/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-jambi/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:media-jambi-digest@yahoogroups.com
mailto:media-jambi-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
media-jambi-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

19.8.09

[media-jambi] Presiden: Tahun 2010 Seluruh Desa Terhubung Internet

Presiden: Tahun 2010 Seluruh Desa Terhubung Internet

Jakarta, (ANTARA News) - Pemerintah menargetkan pada tahun 2010 seluruh
desa dan kecamatan di Tanah Air telah terhubung dengan infrastuktur
telepon dan internet.

"Pembangunan infrastruktur informatika dan telekomunikasi dasar ke
seluruh pelosok tanah air adalah wujud nyata dari tekad bersama
membangun kesatuan Indonesia," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,
saat berpidato pada Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI,
di Gedung DPR-RI, Jakarta, Rabu.

Pada tahun 2010 seluruh daerah perbatasan di tanah air juga diharapkan
dapat menerima siaran TVRI dan RRI.

Menurut Presiden, keberhasilan paradigma "Pembangunan untuk Semua"
memerlukan beberapa prasyarat, di mana perbaikan kemakmuran dan kualitas
hidup rakyat secara merata ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur dasar..

Pembangunan infrastruktur meliputi jalan raya, irigasi, pelabuhan laut,
pelabuhan udara, penyediaan air bersih, telekomunikasi, dan
infrastruktur energi dan kelistrikan.

Perbaikan kualitas infrastruktur di daerah padat penduduk seperti Jawa,
terutama Jakarta, dibangun "Jakarta Mass Rapid Transit System Project",
untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.

Pembangunan transportasi nasional juga dipadukan secara tersistem dengan
pembangunan daerah secara berkelanjutan.

"Percepatan pengembangan wilayah melalui pembangunan infrastruktur untuk
membuka keterisolasian daerah-daerah terpencil," ujarnya.

Khusus infrastruktur penyediaan air minum, pemerintah juga mengambil
kebijakan strategis dengan pemberian jaminan dan subsidi bunga kepada
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Program ini salah satu upaya mewujudkan "millennium development goals"
(MDGs), dalam bentuk penurunan separoh proporsi penduduk tanpa akses
terhadap sumber air minum pada tahun 2015.

"Air minum merupakan kebutuhan dasar masyarakat, yang harus tersedia
dalam jumlah yang cukup merata, dan dengan mutu yang baik," kata
Presiden.(*)

COPYRIGHT © 2009

http://www.antaranews.com/berita/1250658013/presiden-tahun-2010-seluruh-desa-terhubung-internet
http://media-klaten.blogspot.com/
http://seizetheday-cloth.blogspot.com/

Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

------------------------------------

http://media-jambi.blogspot.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-jambi/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-jambi/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:media-jambi-digest@yahoogroups.com
mailto:media-jambi-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
media-jambi-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

13.8.09

[media-jambi] ICW: Koruptor Sudah Kepung KPK



 
LMS yang tergabung dalam Cinta Indonesia Cinta KPK (cicak). (SuaraMedia
News)Semarang (SuaraMedia News) - Febri Diansyah, Anggota Badan Pekerja
Indonesian Coruption Watch (ICW)mengatakan sejak berdiri 29 Desember
2003 hingga 11 Juni 2009, ICW mencatat bahwa KPK telah berhasil menjerat
158 tersangka korupsi.
Dan semua kasus itu oleh Pengadilan Tipikor seluruh tersangka akhirnya
divonis bersalah.Hal ini menurut Febri merupakan prestasi KPK yang patut
dihargai.
Prestasi ini pula yang menjadikan KPK mendapat simpati dari masyarakat
Indonesia bahkan di saat institusi ini dikepung untuk dihancurkan.
"Namun sayang sampai hari ini KPK justru masih terus diserang, dijegal,
digempur dan didelegitimasi dengan berbagai cara. Tujuannya sederhana,
KPK harus mati. Harapannya? Kekuatan koruptor dan transaksi-transaksi
kotor yang dilakukan penyelenggara korup dengan pihak swasta dapat lebih
leluasa dilakukan. Tidak berlebihan agaknya dikatakan, KPK dikepung,"
papar Febri Diansyah saat ditemui usai Diskusi Langkah Cicak Setelah
Deklarasi di Lempongsari Semarang, Kamis siang (13/8/2009).
Ditandaskan olehnya KPK telah berhasil mengobrak-abrik daerah yang
awalnya disebut "zona aman pemberantasan korupsi" seperti parlemen,
tokoh politik, pebisnis besar dan pejabat negara.
Namun kenyataan tersebut tak membuat KPK aman. Institusi ini justru
semakin dilemahkan. Suara dari salah seorang petinggi POLRI yang
menggunakan istilah cicak vs buaya kian mematangkan keresahan dan
kecemasan publik bahwa KPK memang semakin tersudut. Terutama tentang
informasi akan ditangkapnya 3 pimpinan KPK lain, padahal dengan alat
bukti yang sangat diragukan keabsahan dan kekuatannya.
"Tak heran jika kemudian muncul deklarasi Gerakan Cicak yang dilakukan
elemen masyarakat tidak untuk menyerang POLRI. Karena personifikasi
buaya lebih mengarah pada seluruh kekuatan koruptor fight back yang
terus menyerang KPK dan melemahkan pemberantasan korupsi. Kekuatan
inilah yang mengepung KPK dari berbagai arah," tandasnya.
Disisi lain Febri menyatakan banyak kasus terhalang izin pemerintahan
sehingga tidak menjerat pemeran utama dalam sebuah kasus korupsi."Kalau
saja KPK bisa membersihkan institusi kejaksaan maka ceritanya akan
beda," kata Febri.
Sementara itu, Gabungan 31 organisasi mahasiswa, LSM dan Aji Padang
mendeklasikan Cinta Indonesia Cinta KPK (Cicak) Padang di halaman kantor
Gubernur Sumatera Barat, Jalan Jendral Sudirman Padang (13/8/2009).
Menurut Alvon Kurnia Palma, Direktur LBH Padang salah satu yang
tergabung dalam Aliansi Cicak Padang, saat ini ada pihak-pihak yang
ingin melemahkan KPK, untuk itu dengan dideklarasikan Cicak Padang ini
memberikan motivasi kepada KPK untuk tetap memberantas korupsi di negeri
ini.
"Kami mendukung kinerja KPK itu sendiri. Keberadaan KPK sudah memenuhi
aspirasi rakyat terutama reformasi ini dengan memberans korupsi, jadi
untuk apa KPK dilemahkan," katanya.
Alvon tidak juga mengatakan yang melemahkan KPK itu adalah para
elite-elite politik dan pemerintah termasuk instansi hukum sendiri dan
terutama mereka yang terjerat kasus korupsi.
Dalam acara deklarasi tersebut nyaris bentrok antara para peserta
deklarasi denga Pol PP Padang, terkait pengibaran bendera merah putih.
Para demontrasi itu melihat bahwa bendera tidak dikibarkan di halaman
kantor gubernur. Akhirnya para Cicak Padang lansung mengibarkan bendera
tersebut pada pukul 11.30 WIB.
Pol PP yang menjaga aksi damai itu meminta untuk memberikan mik untuk
menjelaskan, kenapa bendera itu tidak dikibarkan namun para Cicak
menolak memberikan mikr tersebut akhirnya terjadilah saling rebut
pengeras suara itu.
Salah satu Pol PP memaksa dan nyaris terjadi perkelahian, beberapa
angota polisi lansung meredamkan emosi kedua belah pihak.
Menurut salah anggota Sat Pol PP yang dikonfirmasi, bendera sudah
dikibarkan tadi pagi, namun karena ada latihan Paskibra bendera tersebut
diturunkan.
Deklarasi Cicak tersebut dilakukan dengan cara demontrasi di halaman
kantor Gubernut Sumbar yang awal melakukan longmarch dari lapangan Iman
Bonjol Padang pada pukul 10.00 WIB menuju kantor Gubernur. Setelah
melakukan deklarasi tersebut, massa langsung membubarkan diri.(okz)
www.suaramedia.com <http://www.suaramedia.com>


Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang!

__._,_.___


http://media-jambi.blogspot.com



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

4.8.09

[media-jambi] Rumah Seni EloProgo, Bejen, Borobudur






 

La Luna a la EloProgo Edisi Agustus 2009
¨di antara air dan bulan¨
Rumah Seni EloProgo, Bejen, Borobudur

Happy Fullmoon, Happy People…

"Bulan purnama adalah salah satu fase bulan di mana bulan terletak di belakang bumi ditinjau dari matahari. Karena satu siklus bulan lamanya 29.5 hari, maka bulan purnama biasanya terjadi di antara hari ke-14 dan 15 dalam kalender lunar. Kalender lunar atau kalender bulan adalah sistem penanggalan yang didasarkan atas perhitungan fase bulan. Setiap hari dalam penanggalan ini menandakan satu lokasi bulan dalam berevolusi terhadap bumi. Mayoritas kalender lunar adalah kalender yang bukan murni mendasarkan perhitungan tanggalnya pada fase bulan saja, melainkan juga memperhitungkan pergantian musim yang dipengaruhi oleh peredaran bumi terhadap matahari. Kalender sejenis ini disebut sebagai kalender lunisolar. Satu dari sedikit kalender yang murni mendasarkan perhitungannya pada fase bulan adalah kalender Arab dan kalender Jawa Islam. Bila jumlah hari dalam kalender solar atau lunisolar berkisar antara 354 hari sampai 366 hari pertahunnya, maka dalam kalender lunar, jumlah hari pertahunnya tetap 354 hari." (Wikipedia)

Meski di Indonesia tidak ada serigala, tapi saya pikir kita sama-sama tahu bahwa serigala melolong di bulan purnama, dan hal ini selalu menjadi misteri para penyuka mistisisme, meskipun secara ilmiah sudah ditemukan kenapa setiap bulan purnama serigala melolong, bahkan berdasarkan mitos yang datang dari Eropa manusiapun bisa berubah menjadi serigala pada saat bulan purnama, mereka menyebutnya werewolf. Dari sudut pandang psikologis, pembicaraan tentang werewolf berarti mengarah pada sebuah kelainan mental yang dinamakan lycanthropy, yaitu sebuah kecenderungan manusia merasa dirinya menjadi binatang dan diikuti oleh perubahan perilaku menjadi seperti binatang itu. Dan bulan purnama diyakini sebagai penyebab dari kecenderungan ini. Berdasarkan keterangan yang saya dapatkan dari Wikipedia, istilah lunatic, lunacy dan kata loony dalam Bahasa Inggris yang berarti 'gila' berasal dari kata Luna atau Bulan dalam Bahasa Indonesia. Menurut beberapa folklore, bulan purnama menyebabkan kegilaan yang periodik serta insomnia kambuhan.

Tanpa mengabaikan hal-hal tersebut, di berbagai belahan dunia, pada suku-suku purba maupun orang-orang modern banyak yang merayakan bulan purnama dengan bermacam-macam alasan yang berbeda, misalnya dalam tradisi Hindu, penyembahan terhadap Wisnu dan Laksmi dilaksanakan pada bulan purnama.

Kami, Rumah Seni EloProgo kemudian bermaksud merespon seluruh wacana dan fenomena dari purnama tersebut dengan membuat sebuah kegiatan rutin bulanan setiap purnama dengan gaya kami sendiri, dan karena tempat kami berada di pinggir sungai maka tema yang kami angkatpun akan menjadi dekat dengan elemen lain yaitu air, kami percaya segala hal 'gila' yang ditimbulkan purnama yang sedikit banyaknya sudah saya ceritakan di atas, akan menjadi seimbang dan pantas bila digabungkan dengan elemen air yang bersifat menyejukkan. Kegiatan ini kami beri nama La Luna a la EloProgo.

Teater Arena Mbah Beji, salah satu panggung yang ada di Rumah Seni EloProgo, adalah tempat yang akan digunakan untuk ajang ini, dengan beberapa alasan yang simbolik dan konseptual. Tepat di tengah-tengah teater akan digali sebuah sumur sebagai simbol mata air dan pada titik tertentu saat purnama kita bisa melihat bayangan bulan di dalam sumur. Ajang ini kemudian menjadi suatu ruwatan pemanasan atas maksud kami tersebut.

Poetry Camp, sebuah perhelatan puisi yang baru-baru ini diadakan di Rumah Seni EloProgo ternyata meninggalkan banyak bekas yang positiv, salah satunya adalah semakin banyaknya teman yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan kami. Beberapa peserta Poetry Camp ternyata memutuskan untuk lebih lama tinggal di rumah Seni EloProgo dengan tujuan untuk berproses kesenian atau residensi. Ajang ini kemudian kami pakai untuk mempresentasikan karya teman-teman yang terlibat dalam residensi ini. Konsep karya yang kami pilih dalam residensi ini disesuaikan dengan tema La Luna a la EloProgo edisi Bulan Agustus 2009 ini, yakni Diantara Air dan Bulan.

Seniman dan penyair yang terlibat dalam residensi ini dan yang akan mempresentasikan karyanya di ajang La Luna a la EloProgo edisi Agustus 2009 adalah Catur Stanis (Monolog), Andre 'bayang' Topo (Performance Art), DJ p0p (Performance Poetry), Gank Harmonika EloProgo (Music Performance) , The Jakarta Band (Puisi Musikal), Ervin Ruhlelana (Pertunjukan Diksi), Din Kandihawa dan Bidadari Bejen (Performing Art and Ritual Art), Sony Santosa (Painting Performance) , Budi Suro (Spiritual Poetry Performance) , Buyung Mentari (Poetry Performance) , Pak Ida dan Anak Matahari (Performing Art). Selain itu di tempat lain, yaitu di Small Wall Exhibition, salah satu galeri di Rumah Seni EloProgo, akan dibuka sebuah pameran lukisan kaca karya Ardi Gunawan.

Berdasarkan perhitungan kalender bulan, Purnama bulan Agustus 2009 ini jatuh pada tanggal 7, maka acara ini akan diadakan pada tanggal tersebut dan akan dimulai pada jam 19.30 WIB.

Kami mengundang anda untuk berpartisipasi dan mengapresiasi acara ini.

Terimakasih…

Selamat Pulang !

 

apa ide Mu??? mari wujudkan dalam KAOS,

http://media- klaten.blogspot. com/

http://seizetheday- cloth.blogspot. com/

my facebook:


Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail. com.



__._,_.___


http://media-jambi.blogspot.com



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

31.7.09

[media-jambi] WG: [SANTRI KIRI] Banyak komentar yang tidak setuju di blog Nurdin M Top, tentang teror bom di DI HOTEL JW. MARRIOT JAKARTA






 
Banyak komentar yang tidak setuju di blog Nurdin M Top, tentang teror bom di DI HOTEL JW. MARRIOT JAKARTA.
 

apa ide Mu??? mari wujudkan dalam KAOS,

http://media- klaten.blogspot. com/

http://seizetheday- cloth.blogspot. com/

my facebook:


Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!



__._,_.___


http://media-jambi.blogspot.com



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

27.7.09

[media-jambi] Bom Jumat "Legi"...



Bom Jumat "Legi"...
 
*SUJIWO TEJO*
Terpujilah mengutuk pengebom Mega Kuningan, Jumat (17/7/2009). Namun,
tanpa mengurangi hormat kepada korban dan keluarganya yang menanggung
duka, sepatutnya kita menengok "bom-bom" dan "korban-korban" lain.
Inilah tragedi yang bermunculan hampir saban hari tanpa pernyataan
kecaman terhadap pelaku, tanpa pameran duka ke hadapan penanggung deritanya.
Suatu tatanan yang mengakibatkan—terutama—pendidikan tinggi menjadi luar
biasa mahal adalah salah satu wajah lain dari "bom" sehari-hari yang
penulis maksud. Para korban tidak meninggal, juga tidak luka-luka.
Mereka tetap memiliki tubuh, ditengarai denyut nadi dan detak jantung.
Namun, tubuh-tubuh itu ada di bawah taraf kepatutan hidup. Mereka tak
mendapat pendidikan layak alias—sejatinya—tak ubahnya jenazah.
*Hidup itu bekerja*
Mari menafsir kematian secara lebih arif, lebih dewasa. Sungguh tetap
kekanak-kanakan jika pada era sekarang, era saat kita diam-diam mulai
tahu sama tahu tentang standar hidup minimal, kita masih tetap
mengartikan kematian harfiah sebagai terhentinya aktivitas fisik semata.
Bukankah kita diam-diam tahu sama tahu bahwa pada era seperti ini orang
yang mondar-mandir tak dapat pekerjaan karena di tangannya cuma
tergenggam ijazah SMU, lantaran tak sanggup berkuliah, tak ubahnya orang
kelojotan menjelang sirna?
Bahkan, jauh sebelum "bayi" Indonesia lahir tahun 1945, jauh sebelum
kita sebagai bangsa matang, nenek moyang kita sudah mengajar, orang baru
sah disebut hidup jika sudah mampu mengaktualisasi diri dalam kerja.
Pandangan Nusantara ini seiring pandangan di Eropa bahwa manusia itu
Homo faber (manusia tukang, manusia pekerja). Tanpa aktualisasi itu,
manusia disebut mati sakjroning urip (ada ya ada, tetapi sejatinya telah
tiada).
Lebih-lebih kesadaran seperti itu sudah ditanamkan sejak kanak-kanak di
berbagai suku dan pelosok antara lain melalui tembang dolanan.
Misalnya... Pak Jenthit Lololobah, wong mati ora obah, yen obah medeni
bocah, yen urip goleko duwit.... Intinya, nenek moyang kita sudah
mencangkokkan wacana sejak usia dini bahwa kalau kelak kalian ingin
disebut hidup, ya bekerjalah. Padahal, tanpa kasus khusus, misalnya
mengandung bakat luar biasa, lapangan kerja macam apa yang kini bisa
digapai lulusan SMU untuk hidup layak karena mereka termehek-mehek akan
biaya melanjutkan belajar ke pendidikan tinggi?
*"Bom" yang lain*
"Bom" lain yang penulis maksud terjadi sehari-hari adalah suatu sistem
yang mengakibatkan modal-modal besar dan asing bisa menyusup dan
merangsek sampai perkampungan untuk membuka perdagangan eceran.
"Korban-korban"-nya yang seakan telah meninggal maupun luka bakar dan
luka ringan adalah seluruh manusia yang mestinya bisa hidup (layak) jika
pasar-pasar tradisional beserta seluruh jaringan distribusinya tidak
remuk redam akibat "bom" itu.
Suatu sistem yang mengakibatkan kesenian tradisional nyaris mati diikuti
megap-megapnya hampir sebagian besar pelaku seni tradisional juga
termasuk "bom-bom" lain. Bagaimana mungkin media massa seperti televisi
diberi kebebasan mengikuti mekanisme pasar. Pasti semua berlomba-lomba
mengejar rating acara dan itu sah. Tanpa campur tangan government alias
pamong praja (maaf penulis sejak dulu kurang sreg dengan konsep kata
"pemerintah" alias pangreh praja) agar tiap stasiun televisi menyiarkan
minimal sekian persen tayangan tradisional, tak mungkin televisi swasta
rela menyiarkan program tradisional.
Belum lagi sistem yang mengakibatkan para petani garam, petani padi,
nelayan, dan lain-lain sempoyongan. Semua itu adalah wujud lain dari bom
yang meledak di Mega Kuningan. Sama halnya dengan Rahwana, simbol
angkara murka yang berkepala sepuluh alias dasamuka, bom Mega Kuningan
cuma wajah lain dari keangkaramurkaan yang tunggal dan padu.
Wajah-wajah lain Rahwana adalah sistem-sistem yang telah penulis
singgung. Dan seperti wajah-wajah Rahwana yang bisa bermetamorfosa
sekehendak hati si empunya angkara, tak seluruh wajah itu tampak
mengerikan. Kadang wajah itu mengambil bentuk nun jauh bertolak belakang
dari kesan beringas.
*Norma tradisional kematian*
Jika kita lebih teliti, lebih awas, lebih sejenak tak tertipu oleh indra
penglihatan yang gampang bias dan fana, mengulur-ulur manusia tetap
hidup secara fisik tetapi sejatinya sudah membunuh perlahan-lahan
martabatnya selaku manusia bukankah jauh lebih tega dan kurang sopan
dibandingkan dengan membunuh manusia seketika secara fisik melalui bom
fisik?
Lagi pula, ajakan untuk tak sekadar memaknai kematian secara fisik
bukanlah mengada-ada. Sebenarnya sudah sejak lama dunia menyelenggarakan
imbauan itu. Orang yang tak dihiraukan apalagi sudah dicabut namanya,
meski masih hidup, sebenarnya sudah mati. Lihat tradisi beberapa suku di
Indian maupun Papua. Seseorang tak perlu dihukum mati secara fisik oleh
kepala suku. Sang ketua cuma mewajibkan warganya tidak menghiraukan dan
tidak menyapanya. Jika perlu, cabut namanya sehingga tiap saat warga
cuma menyerunya "hoiii!!". Lama-lama tokoh ini nglokro lalu akan
benar-benar mati secara fisik.
Kini bandingkan, adakah beda yang amat prinsip antara orang yang tak
dihiraukan itu, lebih-lebih yang telah dicabut namanya sehingga cuma
menjadi nomor dalam cacah jiwa kependudukan zaman dulu, dan penganggur,
petani, nelayan, serta mantan orang-orang pasar tradisional saat ini?
/SUJIWO TEJO Dalang
/
/http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/25/04465828/bom.jumat.legi...

http://media-klaten.blogspot.com/
http://seizetheday-cloth.blogspot.com/



__._,_.___


http://media-jambi.blogspot.com



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___