23.8.11

[media-jambi] Debut Bersejarah Facebook: Siaran Sepakbola




Bagi perusahaan-perusahaan seperti Budweiser, ini langkah praktis menjaring konsumen.

Renne R.A Kawilarang, Amal Nur Ngazis


VIVAnews - Pengelola laman media sosial terkemuka, Facebook, mulai merambah ke ranah penyiaran televisi. Target pertama adalah menyiarkan langsung ajang olahraga terpopuler di muka bumi, sepakbola.

Langkah bersejarah Facebook ini berpotensi menjadi lahan basah baru bagi pelaku industri dengan memanfaatkan laman jejaring sosial di internet.

Facebook akan menyiarkan secara langsung suatu pertandingan turnamen Piala FA Inggris pada Jumat malam, 19 Agustus 2011. Siaran gratis selama 90 menit ini menjadi acara olahraga pertama yang disiarkan secara langsung di suatu laman jejaring sosial.

Partai pertama yang menjadi pelopor bagi revolusi di laman media sosial ini baru melibatkan dua klub kecil semi profesional dari "antah berantah," Ascot United vs Wembley FC.

Di Inggris, ini adalah partai kelas teri dan akan berlangsung di stadiun Ascot, yang hanya berkapasitas 1.150 penonton dan baru pada tahap pertama penyisihan Piala FA.

Namun, partai ini akan menjadi proyek percobaan yang strategis di Facebook, laman yang sudah dikunjungi oleh 700 juta orang di muka bumi. Dengan disiarkan langsung di Facebook, penggemar sepakbola bisa melihat pertandingan itu dimanapun tanpa harus berkunjung ke stadion, asalkan memiliki koneksi internet yang cepat.

Kendati pertandingan belum dimulai, hasil proyek percontohan itu mulai terlihat. Menurut harian The Guardian, pada Rabu pagi, atau tak lama setelah pengumuman siaran langsung pertandingan Ascot vs Wembley, sudah 5.900 pengunjung yang memberi acungan jempol pada laman Budweiser di Facebook sambil mendaftar akses agar bisa menonton lewat layar komputer.

Ketua Pengurus Ascot United, Mike Harrison, tak sabar melihat hasil dari proyek percontohan di Facebook itu. "Malam sebelumnya pertandingan tim kami di liga cuma disaksikan 88 orang. Namun Jumat ini kami bakal kedatangan antara 500-800 orang. Bisa jadi jutaan orang juga akan menonton [lewat internet]. Ini luar biasa," kata Harrison kepada The Guardian.

Lahan Bisnis

Bila mendapat sambutan yang cukup antusias dari pengunjung Facebook, ini menjadi lahan bisnis yang sangat menguntungkan. Apalagi Piala FA ini menjadi ajang pertemuan antara tim-tim kecil seperti Ascot dan Wembley dengan klub-klub raksasa, yaitu Liverpool, Manchester United dan Chelsea, yang memiliki sumber keuangan yang besar dan basis pendukung yang mendunia.

Budweiser, produsen bir terkemuka yang jadi sponsor utama turnamen Piala FA, sangat antusias dengan proyek percontohan ini. "Piala FA sudah berlangsung sejak 140 tahun lalu. Ini merupakan cara yang baik dengan menyajikan tontotan kepada audiens global melalui Facebook," kata Iain Newell, Direktur Pemasaran Budweiser di Inggris, seperti dikutip The Guardian.

Partai itu bisa disaksikan melalui laman Budweiser di Facebook Inggris dan hanya boleh diakses oleh pengunjung yang telah berusia 18 tahun ke atas dan telah mengklik tombol "Like."

Bagi perusahaan-perusahaan seperti Budweiser, fasilitas laman khusus di Facebook itu merupakan langkah yang praktis dan efisien untuk menjaring peminat produk mereka. Dengan menekan tombol "Like", pengunjung otomatis akan disuguhi informasi produk atau iklan dari perusahaan yang bersangkutan di akun pribadinya.

Budweiser sebelumnya sudah memanfaatkan Facebook untuk menjaring para penggemar sepakbola ala Amerika di AS. Mereka diminta ikut suatu pemilihan suara bagi iklan yang ditampilkan selama jeda pertandingan.

Produsen bir asal Amerika tersebut kini mencoba peruntungan baru di Inggris. Menurut harian San Fransisco Business Times, Budweiser pada pertengahan 2011 sepakat mensponsori turnamen Piala FA selama tiga tahun.

Nilai kontraknya hampir US$40 juta. Mensponsori tayangan langsung pertandingan FA lewat Facebook merupakan strategi terkini bagi Budweiser dalam memanfaatkan jejaring sosial.

"Ini adalah pertama kalinya turnamen Piala FA disiarkan langsung di laman jejaring sosial, yang merupakan berita besar bagi penggemar sepak bola dan klub," kata Newell seperti dikutip laman Mirror Football.

Bagi pemilik akun di Facebook, menonton tayangan video di laman itu sebenarnya sudah tidak asing lagi. Banyak laman, mulai dari hiburan dan media massa, sudah menyediakan fitur berbagi video yang dapat disaksikan di Facebook. Namun, proyek percontohan siaran langsung turnamen FA ini akan menjadi layanan yang revolusioner bagi laman itu.

"Merupakan kebanggaan tersendiri bila sudah terlibat dalam babak awal turnamen prestisius seperti Piala FA. Namun, menjadi bagian dari proyek pertama di dunia, dimana pertandingan kami akan disiarkan secara langsung ke pemirsa global merupakan sesuatu yang fantastis bagi klub kami," kata Harrison.




• VIVAnews

http://us.fokus.vivanews.com/news/read/241915-debut-siaran-langsung-sepakbola-di-facebook


Berbagi berita untuk semua

http://goo.gl/KKHti

http://goo.gl/fIWzb



__._,_.___


http://media-jambi.blogspot.com


MARKETPLACE
A good Credit Score is 720, find yours & what impacts it at freecreditscore.com.

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

4.8.11

[media-jambi] Tujuan kita satu ibu : pembebasan (tribute to wiji thukul dan korban penghilangan paksa)



KAWAN MOHON BANTUANNYA untuk menyebarluaskan publikasi artikel, puisi, video, karya rupa di blog lenteradiatasbukit dan page fb Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit(kerja.pembebasan) ini dalam rangka sebulan penuh memperingati ulang tahun Wiji Thukul 26 Agustus dan hari Anti Penghilangan Paksa Internasional yang jatuh pada tanggal 30 Agustus. ditunggu juga kontribusinya. salam hangat, salam pembebasan
 
Galeri Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) mempersembahkan 50 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau sekedar ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul) hingga 24 Agustus (hari lahinya). Kami juga mengundang anda untuk turut menyumbangkan karya rupa, puisi, artikel dan catatan pendek anda. Anda juga dapat membagikan foto-foto kenangan, video melalui page berikut ini :
 
Tribute to Wiji Thukul
atau di blog lenteradiatasbukit mulai hari ini hingga akhir bulan untuk artikel, puisi dan karya rupa
Bila tidak ada halangan kami merencanakan melakukan pameran 'gerilya' di sekitar tanggal kelahiran Wiji Thukul nanti. Kami mengundang pula kawan-kawan untuk melakukan berbagai inisiatif terkait gagasan Tribute to Wiji Thukul ini. Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus sebagai kado untuk peringatan proklamasi kemerdekaan dan tentunya kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan.
 
NARASI WIJI THUKUL
tujuan kita satu ibu : pembebasan
 
disini
kubaca kembali
: sejarah belum berubah!
 
tanah air digadaikan
masa depan rakyat di gelapkan
(dan)
derita sudah naik ke leher
kau
menindas
sampai di luar batas
(dan)
derita sudah matang
bahkan busuk
tetap ditelah?
 
maka hanya ada satu kata : lawan!
 
kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu : pembebasan
 
satu mimpi, satu barisan
(maka)
jika kami bunga
engkau adalah tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan : engkau akan hancur!
 
kutundukkan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk
kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak
(petikan2 puisi Wiji Thukul : kuburan purwoloyo, bunga dan tembok, peringatan, tujuan kita satu ibu, derita sudah naik seleher, busuk dan momok hiyong)
 
 
Hanya satu kata, lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya sata kata, lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otorritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan (Munir)
 
Membaca puisi Wiji Thukul adalah membaca ottobiografi kejiwaan penyair. Dia menceritakan nasib jutaan rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan yang terlalu menguntungkan kaum elitnya (Arif Budiman)
 
Wiji sudah selayaknya mendpt penghargaan pertama-tama dan utama atas apa yang dilakukannya dalam pemajuan dan perlindungan hak azasi manusia. Penghargaan ini juga menjadi lonceng peringatan bagi kita semua bahwa penghilangan orang secara paksa adalah kejahatan yang masih berlangsung. Lonceng yang mengingatkan bahwa kita semua berutang kepada keluarga, sahabat, dan kekasih dari orang yang dihilangkan di negeri ini. Tentulah jangan dilupakan bahwa yang paling berutang adalah negara, terutama pemerintah (Asmara Nababan, Kompas 11/12/2002)
 
Mengenal Lebih Jauh Wiji Thukul (Artikel, Video dan Karya)

Berbagi berita untuk semua

http://goo.gl/KKHti

http://goo.gl/fIWzb



__._,_.___


http://media-jambi.blogspot.com



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

19.7.11

[media-jambi] Benci tapi Rindu Hubungan Presiden dan Pers



Agus Sudibyo Wakil Direktur Yayasan SET Jakarta

KEMENANGAN Susilo Bambang Yudhoyono dalam mempere g butkan kursi presiden Republik Indonesia, khususnya pada pe k riode pertama, dapat dilihat sebagai cermin t keberhasilan pers dalam menampilkan tokoh alternatif. Kemunculan Yudhoyono h sebagai tokoh nasional saat itu tak dapat t dilepaskan dari proses pencitraan atau h media framing pers dalam kerangka me k munculkan pemimpin alternatif. Di tengah kejenuhan publik terhadap figur pemimpin t yang telah mapan: Megawati, Gus Dur, Ak s bar Tanjung, Wiranto, dan lain-lain, media secara intens menampilkan penggambaran k simpatik dan legitimate terhadap Yudhoyo t no. Tingginya intensitas kritik pers terhadap pemerintahan Megawati misalnya, secara k signifikan mendongkrak posisi Yudhoyono h tatkala berhadapan dengan Megawati pada babak akhir Pilpres 2004.

Namun, fakta semacam ini tidak otomatis menjamin kontinuitas hubungan harmonis antara presiden dan pers. Dalam sejarah k Indonesia, hubungan presiden dengan pers tak ubahnya hubungan rindu tapi benci. a Keduanya pernah menunjukkan simbiosis f mutualisme: pers membutuhkan tokoh z yang namanya populer dan menjual, se n dangkan presiden selalu membutuhkan dukungan opini publik melalui pemberitaan. Namun seiring perjalanan waktu, keduanya tiba-tiba memasuki hubungan yang antagonistik. Sebelum Yudhoyono, empat presiden Indonesia sama-sama menunjukkan pasang-surut hubungan dengan pers. Mereka pernah menikmati dukungan simbolik dari pers, terus-menerus dicitrakan sebagai pemimpin masa depan, tokoh alternatif atau harapan bagi wong cilik. Namun, ketika berada di pucuk kekuasaan, tak segan-segan mereka melakukan pembredelan, menerapkan undang-undang yang represif, memenjarakan wartawan, atau mendiskreditkan pers dengan tuduhan tendensius dan berlebihan.

Dalam urusan dengan pers, Presiden Yudhoyono sejauh ini sebenarnya relatif lebih baik dibandingkan para pendahulunya: belum pernah membredel media, bersedia membatalkan undang-undang yang mengancam kebebasan pers, dan beberapa kali menyampaikan penilaian simpatik tentang pers. Namun di sisi lain, tetap saja Yudhoyono belum sepenuhnya meninggalkan kebiasaan para pendahulunya.
Ketika terjepit oleh kritik pers, Yudhoyono masih terpancing untuk bereaksi secara kurang proporsional dan bersikap apriori tentang pers. Kasus terakhir, Yudhoyono mengkritik pers karena menggunakan BBM dan SMS dalam memberitakan skandal M Nazaruddin dan kelemut dalam tubuh Partai Demokrat. Sekali lagi, Presiden menuai kritik dan kontroversi.

* * * Mengapa pasang-surut hubungan antara Presiden dan pers terjadi? Di satu sisi, ini mengindikasikan bahwa secara umum pers Indonesia merupakan pers yang independen. Pers Indonesia, dengan beberapa pengecualian, dapat menjaga netralitas dan menjaga jarak dengan kekuasaan.
Pers Indonesia siap memberikan pujian dan apre siasi kepada tokoh alternatif, tetapi juga tak ragu-ragu me nyampaikan kr it i k b ah kan bersikap oposisional ketika tiba waktu nya. Namun bisa jadi pula masalahnya karena memang ada yang tidak proporsional dalam pemberitaan pers.
Ada media yang terlalu bersemangat menjalankan fungsi kontrol, terburuburu dalam memberitakan, kurang menjaga disiplin verifikasi, h i n g g a cenderung menghakimi. Maka muncullah re a k s i k e beratan dari presiden atau pemerintah.

Dari sisi ini, seyogianya kedua pihak bersikap proporsional, menghindari generalisasi dan sikap apriori. Tidak semua media tidak profesional dan menghakimi ketika mengkritik presiden. Sebaliknya, tidak semua kritik presiden terhadap pers merupakan kritik yang salah dan harus dihadapi dengan reaksi penolakan yang ekstrem. Sekali lagi, kita perlu merujuk pada hal yang spesifik: berita yang mana, dalam kasus apa, edisi yang mana, dan di media mana. Bersikap proporsional semestinya tidak sulit diupayakan karena kedua pihak sesungguhnya saling membutuhkan.

Dari sisi Presiden sendiri, ada beberapa kemungkinan. Pertama, kita menghadapi tipe presiden yang anti kritik, otoriter dan mempunyai kecenderungan membatasi kebebasan pers. Kedua, bisa jadi kita menghadapi presiden yang sekedar tidak siap menghadapi perubahan sikap pers. Presiden yang terbiasa disanjung-sanjung pers dan tidak siap mental ketika tiba-tiba pers menunjukkan sikap oposisional. Ketiga, kita menghadapi presiden yang mencerminkan problem umum dalam pemerintahan kita: berpandangan konservatif tentang fungsi dan kedudukan pers. Meskipun zaman sudah berganti, tidak demikian dengan cara pandang kalangan pemerintah terhadap pers. Dalam tubuh pemerintah, belum terjadi perubahan persepsi yang kondusif bagi ruang publik media yang demokratis dan bebas dari inter vensi negara. Masih bertahan dalam benak banyak pejabat publik kita, ilusi tentang pers sebagai mitra pemerintah, perangkat pembangunan, pengawal nilai-nilai nasionalisme dan semacamnya.
Problem cara pandang ini tebersit dalam sikap apriori para pejabat publik yang selalu mempersoalkan kedudukan pers sebagai `pengkritik' pemerintah. Mereka sepertinya tidak membuka diri terhadap prinsip atau fakta bahwa dalam rezim yang demokratis, fungsi pers tak lain dan tak bukan memang menjalankan kontrol terhadap kekuasaan, dengan rambu-rambu kode etik jurnalistik.

* * * Dari tiga kemungkinan di atas, di manakah posisi Presiden Yudhoyono? Penulis melihat, Yudhoyono tidak sedang memerankan diri sebagai pemimpin otoriter yang berkecenderungan memberangus kebebasan pers. Yudhoyono pasti juga sadar benar sikap otoriter tidak realistis untuk saat ini. Posisi politik pers boleh dibilang sedang kuat-kuatnya di hadapan unsur-unsur kekuasaan, kecuali di hadapan pemiliknya sendiri! Siapa pun yang memimpin ne geri ini, pasti akan berpikir berulang kali untuk `berkonfrontasi' secara langsung dengan pers saat ini. Kuatnya posisi politik pers tergambar dalam kontroversi pemberitaan M Nazaruddin, juga dalam kontroversi pernyataan Menses kab Dipo Alam tentang boikot iklan media be berapa waktu lalu.

Sikap reaktif Pre siden terhadap pers belakangan lebih menunjukkan ke tidaksiapan mengha dapi perubahan sikap media yang sangat kritis terhadap pe merintah atau partai pendukung pemerin tah, dibumbui dengan cara pandang yang masih cenderung kon servatif tentang fungsi dan kedudukan pers.

Namun perlu ditegaskan, sebagai objek pemberitaan, sesungguhnya presiden mempunyai hak mengajukan kritik atau komplain terhadap media. Sebagai `tukang kritik', tentu saja pers harus terbuka terhadap kritik. Pers menuntut transparansi pe nyelenggaraan pemerintahan, tetapi perlu juga harus transparan pada dirinya sendiri. Akan tetapi sekali lagi kritik terhadap pers semestinya proporsional dan tidak menggeneralisasi. Kritik harus jelas menunjuk pada berita yang mana, dalam kasus apa dan oleh media yang mana. Unsur-unsur politik juga mesti menahan diri dan kontekstual. Jika masalahnya ialah jurnalisme, semestinya UU Pers yang menjadi referensi, dan oleh karena itu tidak perlu sedikitsedikit mengancam hendak memidanakan pers, tanpa terlebih dahulu menempuh prosedur hak jawab dan proses penyelesaian melalui Dewan Pers atau KPI.

* * * Penggunaan BBM atau SMS sebagai materi pemberitaan tentang M Nazaruddin, bukanlah suatu kesalahan. Yang perlu dipersoalkan adalah beberapa hal berikut ini. Pertama, apakah media telah mengecek bahwa pengirim BBM atau SMS itu benarbenar M Nazaruddin? Pers bertanggung jawab memastikan hal ini. Pada akhirnya, ada media yang dapat membuktikan BBM atau SMS itu memang berasal dari M Nazaruddin. Namun pada permulaan mencuatnya kasus ini, bisa jadi sebagian media terburu-buru memberitakan tanpa terlebih dahulu memastikan kebenaran sumber tersebut.

Kedua, pers juga bertanggung jawab mengonfirmasi pihak-pihak yang disebut dalam BBM atau SMS Nazaruddin. Pengakuan Nazaruddin harus diuji atau diverifikasi karena menyangkut nama baik pihak lain. Di sini, staf kepresidenan semestinya melakukan analisis isi untuk mengetahui berita mana yang telah mengandung konfirmasi dan verifikasi, mana yang belum. Perlu dipastikan bahwa presiden mengevaluasi kerja pers dengan data yang valid dan tidak hanya berdasarkan asumsi atau pengamatan sekilas semata.

Ketiga, kontroversi M Nazaruddin sudah berlangsung selama dua bulan dan pers telah habis-habisan memberi takannya. Tapi mengapa pers umumnya masih berkutat dengan jur nalisme statement dan belum beranjak kepada jurnalisme in vestigatif? Semua pihak mengetahui pengakuan M Nazaruddin bertolak belakang dengan sanggahan Anas Urbaningrum dan Partai Demokrat. Sampai kapan mereka dibiarkan `saling berbalas pantun', berbantah-bantahan di ruang publik media?
Fungsi pers seharusnya tidak berhenti mengemukakan kasus dan menjalankan fungsi kontrol, tetapi juga mengungkapkan kebenaran di balik kasus itu. Hal inilah yang harus dilakukan saat ini.

Kita mempunyai pe lajaran berharga dalam hal ini. Sering terjadi, suatu kontroversi redup begitu saja seiring dengan munculnya kontroversi lain atau tercapainya `resolusi' antarelite politik. Padahal, duduk-perasa di balik kon troversi itu belum benar benar terungkap. Wacana media hanya meninggal kan tanda tanya besar.

Kasus Bank Century ialah contohnya. Hingga saat ini, skandal penggunaan dana publik sebesar Rp6 triliun masih jauh dari selesai. Namun, media se perti membiarkan skandal Bank Century meredup begitu saja ketika para politikus yang membe berkan kasus itu sudah merasa puas bersilat li dah dan telah mencapai tujuan partikularnya.

Apakah kontroversi M Nazaruddin akan bera khir dengan antiklimaks seperti halnya kontro seperti halnya kontroversi Bank Century? Tergantung pada kesungguhan media untuk melakukan lebih dari sekadar jurnalisme statement, dan mengorientasikan pengungkapan kebenaran dari suatu kasus, serta tidak sekadar memodifikasi kasus itu semata-mata demi alasan oplah atau rating. 

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2011/07/18/ArticleHtmls/Benci-tapi-Rindu-Hubungan-Presiden-dan-Pers-18072011017003.shtml?Mode=1


Berbagi berita untuk semua

http://goo.gl/KKHti

http://goo.gl/fIWzb



__._,_.___


http://media-jambi.blogspot.com



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[media-jambi] GOOGLE+ BUKAN SEKADAR JEJARING SOSIAL BIASA




Banyak yang memperkirakan G+ merupakan senjata untuk mengantisipasi kolaborasi Facebook dan Bing, mesin pencari milik Microsoft.

Banyak yang memperkirakan G+ merupakan senjata untuk mengantisipasi kolaborasi Facebook dan Bing, mesin pencari milik Microsoft.
PADA awal kemun culannya dua pekan silam, sebagian dari pengguna terbatas Google Plus (Google+) menilai layanan tersebut tak ubahnya jejaring sosial lain. Beberapa fiturnya dianggap nyaris sama dengan fitur Facebook, tapi hanya berbeda nama.

Lantas generasi pertama Google+ atau para early adapters itu pun mengeksplorasi layanan tersebut. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin bingung mereka dibuatnya.
Dalam eksplorasi itu, mereka pun menemukan ada sejumlah fungsi Twitter yang juga terakomodasi oleh Google+.

Sejumlah blogger dunia berpecah argumen. Sebagian optimistis, Google+ adalah temuan terbaik untuk melengkapi kebutuhan blogging mereka. Mereka bahkan meyakini, layanan tersebut dapat membunuh Twitter saat sudah dapat diakses lebih luas oleh publik.

Sisanya menilai, anggapan itu hanya omong kosong. Namun mereka menyatakan, kehadiran Google+ telah mengembalikan ingatan mereka pada momen kemunculan Twitter. Saat itu mereka berpendapat, kehadiran layanan microblogging itu tidak akan berhasil.

Para pengguna Google+ pun tak yakin hal baru apa yang sebetulnya ditawarkan oleh layanan tersebut. Layanan ini layaknya paket kombo yang mempertemukan tampilan ala Facebook, fitur following dan follower milik Twitter, serta kemampuan posting konten seperti Tumblr.

Pengguna awal yang didominasi para elite teknologi global itu pun terus berjuang untuk mendefinisikan Google+. Hal itulah yang kemudian membuat hampir seluruh posting mereka di layanan tersebut berisikan tips dan definisi yang dihasilkan dari pengalaman bereksplorasi.
Integrasi Pemilik situs Firsttimetechfounder.posterous.com Vincent Wong, misalnya, membuat slide khusus dengan Google+ photo viewer yang menayangkan teorinya terkait layanan tersebut. Dalam slide itu ia menulis, Google+ bukanlah jejaring sosial.

"G+ adalah tentang memindahkan segalanya ke komputasi awan," tulisnya dalam slide yang dilansir Kamis (14/7) itu melalui akun Google Plus-nya.

Selama ini, menurut dia, para pengguna terlalu terpaku pada fitur-fitur jejaring sosial yang dapat diakses di sebelah kanan atas laman akun Google+.
Mereka telah melewatkan fiturfitur penting lain yang juga ditawarkan raksasa teknologi itu pada layanan tersebut.

Fitur-fitur tersebut merupakan layanan yang sudah ditawarkan Google jauh s belum kehadiran G+, an tara lain Gmail, Calendar Documents, Photos, Reader, dan lainnya. Bagian inilah, menurut analisis Wong, yang menjadi tujuan utama atau esensi kehadiran G+. Ia menilai, G+ merupakan layanan yang memungkinkan pengguna untuk mengolabo rasikan sekaligus berbagi melalui seluruh spektrum yang ditawarkan Google, mulai dari jejaring sosial, dokumen, hingga pasar aplikasi milik Chrome.

Singkatnya, kata Wong, Google menawarkan layanan untuk nyaris seluruh hal yang biasa dilakukan seseorang di komputernya. Lantaran itu, ia menyimpulkan, Facebook dan Twitter bukanlah pesaing terberat layanan baru ini, tetapi Microsoft dan Apple.
Kumpulkan informasi Namun beberapa analis juga memprediksi ada tujuan lain yang ingin dicapai Google melalui layanan terbarunya itu di samping tawaran kolaborasi dan integrasi. Mereka memperkirakan G+ merupakan senjata untuk mengantisipasi kolaborasi Facebook dan Bing, mesin pencari milik Microsoft.
Melalui G+, Google dapat mengumpulkan informasi pribadi para penggunanya.

Hal itu tentu dapat membantu perusahaan untuk memetakan penggunanya secara lebih spesifik. Informasi ini akan sangat berharga bagi perusahaan tersebut un tuk mencari pengiklan.

Maklum, pe rilaku manusia di ranah daring memang terus bergerak dina mis, terlebih sejak keha diran situs situs jeja ring sosial. Keberadaan layanan tersebut membuat para pengguna mulai menghabiskan banyak waktu di dunia virtual.

Hampir seluruh 750 juta pengguna Facebook di seluruh dunia berbagi maupun mencari rekomendasi terkait kebutuhan personal, mulai dari tempat makan hingga film yang wajib ditonton, dari teman-temannya di jejaring sosial tersebut.

Hasilnya, Facebook menjadi situs yang memiliki harta terbesar di dunia maya saat ini, yaitu informasi pribadi penggunanya, melalui empat miliar posting maupun koneksi yang mereka hasilkan secara kolektif setiap harinya.

Google tidak bisa mengakses informasi tersebut karena Facebook tidak membaginya untuk publik. Hal itu menjadi satu kekalahan bagi Google. Terpaan besar lantas datang saat situs jejaring sosial itu membentuk kemitraan khusus dengan pesaing Google, Bing.

Sejak Mei lalu, Microsoft mulai menggunakan informasi dari preferensi pengguna Facebook untuk menyaring hasil pencarian. Artinya, Bing memiliki kemungkinan terbesar untuk memberikan hasil yang paling mendekati kebutuhan.

Kolaborasi Bing dengan Facebook bahkan dikabarkan telah mengerek popularitas mesin pencari tersebut. Google sendiri sebenarnya masih berkuasa di layanan tersebut. Sekitar dua pertiga warga AS, misalnya, masih menggunakan Google sebagai mesin pencari utama. (cnn.com/AP/digitaltrends.com/M-4)

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2011/07/18/ArticleHtmls/GOOGLE-BUKAN-SEKADAR-JEJARING-SOSIAL-BIASA-18072011027006.shtml?Mode=1


Berbagi berita untuk semua

http://goo.gl/KKHti

http://goo.gl/fIWzb



__._,_.___


http://media-jambi.blogspot.com


MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[media-jambi] Runtuhnya Kerajaan Media Murdoch



Jonathan Schell, VISITING FELLOW PADA YALE UNIVERSITY, PENGARANG BUKU THE SEVENTH DECADE: THE NEW SHAPE OF NUCLEAR DANGER

Selama empat dekade sejak Watergate melengserkan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon, para politikus telah berulang kali mengabaikan pelajaran yang seharusnya mereka petik dari skandal tersebut: menutup-nutupi kejahatan lebih buruk daripada melakukan kejahatan itu sendiri. Seperti Nixon, para politikus itu telah membayar harga yang lebih mahal— karena menyembunyikan kejahatan yang mereka lakukan—daripada harga yang sepantasnya mereka bayar karena kejahatan itu saja.

Sekarang ada lagi skandal yang tidak mengambil pelajaran itu: skandal penyadapan telepon di Inggris, yang telah mengguncang dunia politik di negeri itu. Selama sepuluh tahun terakhir ini, tabloid The News of the World, milik News Corporation yang dikuasai Rupert Murdoch, telah menyadap voice mail 4.000 orang, termasuk bukan hanya voice mail keluarga kerajaan, para pesohor, dan orang-orang penting lainnya, tapi juga keluarga para anggota tentara yang tewas di Afganistan dan Irak serta keluarga korban serangan teroris pada Juli 2005 di London.

Semua kejahatan ini terbongkar ketika harian The Guardian melaporkan bahwa tabloid itu telah menyadap voice mail Milly Dowler, seorang gadis berusia 13 tahun yang dinyatakan hilang. Tampaknya tabloid tersebut melakukan hal itu dengan harapan memperoleh ungkapan-ungkapan pribadi kesedihan anggota keluarga Dowler yang dapat dimuat di halaman muka tabloid. Ketika jasad gadis yang dibunuh itu ditemukan enam bulan kemudian, keluarga dan polisi mengira ia mungkin masih hidup karena orang-orang dari The News of the World menghapus sejumlah pesan saat mailbox telepon gadis malang itu terisi penuh (menurut Scotland Yard, para penyadap Murdoch itu menyogok beberapa perwira menengah polisi untuk memasok juga informasi).

Dalam sejarah penyadapan, apa yang dilakukan tabloid itu merupakan sesuatu yang baru. Bahkan Stalin tidak pernah menyadap orang-orang yang sudah wafat.

Setelah terbongkarnya skandal itu, dilakukanlah upaya menutup-nutupinya. James Murdoch, putra Rupert Murdoch, ketua dan direktur utama media-media yang ada di bawah naungan News Corporation di Eropa dan Asia, memerintahkan diberikannya pembayaran secara rahasia sebesar 1 juta pound sterling (US$ 1,6 juta) kepada korban-korban penyadapan itu agar mere

ka tutup mulut. Jutaan e-mail News Corporation dimusnahkan. Namun perbuatan yang tidak berperikemanusiaan itu tetap saja lebih mengejutkan daripada upaya menutup-nutupinya tersebut.

Walaupun demikian, konsekuensi politik dari skandal penyadapan ini bakal bergantung pada hasil investigasi yang sekarang sedang dilakukan di Inggris. Di samping semua itu, besarnya dampak skandal ini juga bakal bergantung pada bagaimana pemerintah dan masyarakat menilai apa dan siapa News Corporation itu sebenarnya.
Keluarga Murdoch menamakan News Corporation itu suatu kerja usaha jurnalistik.
Sebenarnya News Corporation pertama-tama adalah suatu bisnis entertainment. Sebagian besar penghasilan News Corporation mengalir dari bisnisnya di bidang perfilman dan televisi. Kedua, dan lebih penting lagi, News Corporation adalah mesin propaganda gagasan-gagasan kaum konservatif dan tokoh-tokoh politiknya. Inilah wajah utama News Corporation di Amerika Serikat, dalam bentuk Fox News, yang ciri khasnya adalah tiada henti-hentinya menyebarkan ideologi kaum konservatif.
Padahal propaganda politik itu merupakan ranah pemerintah dan partai politik. Resminya, Fox News tidak membawakan suara pemerintah maupun partai politik--walaupun sebagian besar dari apa yang dilakukannya adalah melayani kepentingan Partai Republik di Amerika Serikat.

Di Inggris, News Corporation telah menciptakan semacam negara sendiri dengan mengkorup polisi, mengambil alih hak polisi dalam mengawasi masyarakat, dan mengintimidasi para politikus supaya memalingkan muka. Di Amerika Serikat, News Corporation berperilaku serupa, menggunakan kekuatan media korporat untuk memberikan pijakan hidup kepada Tea Party, organisasi politik yang berdiri sendiri. Semua perilaku ini berbeda dengan apa yang seharusnya dilakukan suatu organisasi jurnalistik. Peran utama jurnalisme dalam suatu demokrasi adalah memberdayakan masyarakat dengan menyampaikan informasi mengenai pemerintah dan lembaga-lembaga berkuasa lainnya, gerakan-gerakan masyarakat, peristiwaperistiwa internasional, dan seterusnya. Tapi News Corporation menggantikan jurnalisme semacam itu dengan gosip dan berita-berita yang merangsang, seperti yang dilakukannya ketika ia mengakuisisi News of the World, yang sudah berusia 168 tahun, dan mengubahnya menjadi tabloid pada 1984 serta dengan kampanye memihak kaum konservatif, seperti yang dilakukannya ketika ia mendirikan Fox News pada 1996.

Tidal mengherankan, pada Fox News, seperti juga pada banyak media News Corporation lainnya, independensi redaksi dikorbankan dan diletakkan di bawah kendali yang sangat ketat. Berita dan komentar dicampuradukkan ke dalam arus kampanye politik yang tidak putus-putusnya.

Ideologi mengalahkan fakta. Dan tokohtokoh utama Partai Republik, termasuk mereka yang mungkin bakal menjadi calon-calon yang akan ikut dalam pemilihan presiden, ditampilkan sebagai "komentator". Sesungguhnya kelihaian khas Fox News adalah mengubah propaganda menjadi media populer yang berhasil secara finansial.

Mengingat keberhasilan The News of the World dari segi finansial inilah maka tidak mengherankan jika Murdoch sudah menciptakan di tempat-tempat lainnya replika dari tabloid utamanya di Inggris yang terpaksa mereka tutup itu. Apa pun yang bakal terungkap, skandal penyadapan yang

terjadi di Inggris itu tidak berbeda dengan transformasi informasi menjadi propaganda yang dilakukan Murdoch: kedua-duanya mencerminkan upaya menghancurkan dinding-dinding esensial demokrasi yang memisahkan media, negara, dan partai politik. Murdoch telah mencampuradukkan ketiga entitas itu menjadi suatu kekuatan tunggal tanpa pertanggungjawaban yang, seperti kita saksikan di Inggris sekarang ini, tidak memiliki kekangan atau etika apa pun.

Upaya yang dilakukan Murdoch ini menghadapkan kita kepada suatu realitas yang mendasari baik skandal penyadapan beserta bayang-bayang kekejaman dan korupsinya itu maupun Fox News, saluran berita paling populer di Amerika itu: terlalu banyak orang menginginkan apa yang disajikan News Corporation. Dan apa yang terlalu banyak orang inginkan itu bisa membahayakan suatu masyarakat yang beradab dan berbasis hukum.

Untuk sepintas melihat seberapa berbahayanya, lihatlah Italia. Di negeri itu, konglomerasi MediaSet Perdana Menteri Silvio Berlusconi telah berhasil merayu sebagian besar pemilih sejak 1990-an dengan menampilkan kombinasi variety show dan teater politik model Murdoch.
Ketika sistem politik Italia pasca-perang ambruk pada awal 1990-an, Berlusconi berhasil membentuk partainya sendiri, memenangi pemilihan, serta, selama tiga kali memerintah, membengkokkan hukum dan lembaga-lembaga pemerintah supaya melayani kepentingan bisnis dan pribadinya.

News Corporation tampaknya bertekad membawa Inggris dan Amerika menapak jalan serupa. Tapi sekarang para politikus Inggris sudah melakukan perlawanan. Perdana Menteri David Cameron--yang sebelum ini punya hubungan erat dengan para petinggi News Corporation, bahkan menunjuk mantan Pemimpin Redaksi The News of the World, yang baru-baru ini ditangkap karena terlibat penyadapan sebagai sekretaris pribadinya--telah menamakan penyadapan itu sebagai sesuatu yang "memuakkan". Sementara itu, para pemimpin Partai Buruh, yang dulu juga pernah meminta dukungan Murdoch, sudah bersumpah akan memblokir upaya News Corporation untuk sepenuhnya menguasai stasiun televisi berbayar paling besar di Inggris. Masih harus dilihat apakah perlawanan ini nantinya akan menyeberang Atlantik ke daratan Amerika juga. HAK CIPTA: PROJECT SYNDICATE, 2011. 

http://epaper.korantempo.com/PUBLICATIONS/KT/KT/2011/07/18/ArticleHtmls/Runtuhnya-Kerajaan-Media-Murdoch-18072011011006.shtml?Mode=1


Berbagi berita untuk semua

http://goo.gl/KKHti

http://goo.gl/fIWzb



__._,_.___


http://media-jambi.blogspot.com


MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.


Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

15.7.11

[media-jambi] Opera Van Indonesia



ABDUL MU'TI :

 

Saat ini berjuta-juta rakyat Indonesia sedang menyaksikan pertunjukan opera tentang orang–orang yang sakti mandraguna.


Opera ini mengalahkan rating semua film box office dan sinetron di semua stasiun televisi. Opera ini memiliki tiga keistimewaan. Pertama, didukung oleh tokoh-tokoh atau aktor-aktor ternama yang malang melintang di jagat politik. Mereka memainkan karakter dan diri mereka masing-masing.

Kedua, ceritanya merupakan kisah nyata (reality show)yang penuh dengan kejutan. Setiap hari selalu muncul kejutan-kejutan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Ketiga, menjangkau semua kalangan karena disajikan pada saat prime time. Selain itu, opera ini juga bisa dibaca melalui media massa cetak, internet,dan situs jejaring sosial.

Sebutlah tokoh Nunun Nurbaiti yang mengalami amnesia, tetapi masih bisa keliling dunia. Ketika namanya disebutsebut dalam kasus traveler check yang melibatkan beberapa anggota DPR dan mantan menteri, Nunun mengalami gangguan ingatan. Seorang dokter mengatakan bahwa Nunun positif mengidap penyakit lupa.

Sebelumnya Nunun sehat walafiat.Nunun pun berobat ke luar negeri demi memulihkan memorinya. Namun, dari olah TKP banyak kejanggalan, terutama jika dikaitkan dengan logika ilmiah. Bagaimana seorang yang mengalami gangguan ingatan bisa ngelencer ke luar negeri.

Menurut berbagai sumber, Nunun juga berpindahpindah dari satu negara ke negara lainnya.Dia pasti orang hebat.Hanya orang sakti yang bisa traveling dalam posisi linglung. Bagaimana Nunun yang pelupa tetap keep in touch dengan suaminya? Nunun pasti punya kesetiaan (ingatan) yang luar biasa tentang suaminya.

Tokoh yang lainnya adalah Nazaruddin. Selain profesinya sebagai seorang pengusaha dan politisi, Nazaruddin ternyata juga seorang ghost-writer. Di mana Nazaruddin berada hanya beberapa gelintir sahib dan "ahlulbait"-nya yang tahu. Kabarnya, Nazaruddin sudah tidak berada di Singapura.

Walaupun demikian, sebagai seorang prolific-writer, Nazaruddin tetap produktif mengirimkan tulisan ke berbagai media melalui BB-nya.Hebatnya, semua media massa cetak dan elektronik memuat "karya" Nazaruddin tanpa editing. Lagi-lagi, dari olah TKP ada beberapa keganjilan.

Mengapa redaktur media massa yang dipenuhi jurnalis kritis dan cerdas percaya begitu saja dengan message dari Nazaruddin? Mengapa tidak ada usaha check and recheck akan validitas dan orisinalitas bahwa message benar-benar dari Nazaruddin?

Selain kemampuan "menghipnotis" redaktur media, Nazaruddin juga memiliki indera keenam: ngerti sak durunge pinarak (mengerti sesuatu yang akan terjadi). Buktinya, sehari menjelang dicekal, dia sudah ke luar negeri sehingga petugas imigrasi meloloskannya. Hebat bukan?

Bangsa yang Sakit

Walau demikian, mereka tetaplah aktor-aktor yang tunduk pada pakem cerita dan arahan sutradara. Mereka hanyalah wayang yang dimainkan oleh dalang. Jika pemainnya saja hebat, apalagi dalangnya. Nunun,Nazaruddin yang disebut sebagai aktor opera "orang-orang sakti mandraguna" tidak hanya memerankan dirinya sendiri, tetapi memerankan bangsanya.

Nunun dan Nazaruddin hanyalah potret dari bangsa Indonesia yang sakit.Sastrawan dan wartawan Mochtar Lubis dalam bukunya, Manusia Indonesia, memaparkan enam karakter bangsa Indonesia:

(1) munafik,
(2) tidak bertanggung jawab,
(3) berjiwa feodal,
(4) mistis dan sangat percaya takhayul,
(5) seni yang cenderung erotis, dan
(6) mentalitas yang lemah. Penilaian senada juga dikemukakan Koentjaraningrat.

Dalam bukunya,Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, Koentjaraningrat menyebut lima karakter negatif bangsa Indonesia:

(1) meremehkan mutu,
(2) suka menerabas,
(3) tidak percaya kepada diri sendiri,
( 4) tidak disiplin,
(5) mengabaikan tanggung jawab.

Nunun dan Nazaruddin memang sedang memainkan peran yang membuat dirinya dihujat oleh hampir semua pemirsa. Mereka harus ikhlas menerima label "orang jahat". Tetapi, mereka berdua hanya sedang "sial".

Dalam negeri yang menurut Ahmad Syafii Maarif sudah nyaris sempurna kehancurannya, terdapat beribu orang yang mungkin lebih jahat dari mereka berdua. Ini merupakan masalah yang sangat serius. Masalah yang lebih serius lagi adalah jika bangsa Indonesia tidak menyadari masalahnya.

Sebagian bahkan menikmati dan mengeruk keuntungan dari berbagai masalah. Anehnya, para pemimpin justru mempermasalahkan orang-orang yang menyadarkan akan adanya masalah. Walaupun menarik, rakyat sesungguhnya mulai menderita dengan penyakit bangsanya yang kian akut.

Di tengah ketidakberdayaan, nurani mereka berontak. Dilihat dari sepak terjangnya, Nunun dan Nazaruddin adalah orang-orang yang hebat. Tetapi sejatinya mereka adalah orang-orang yang lemah. Mereka adalah korban dari sebuah kekuatan raksasa. Ibarat permainan catur, mereka adalah "pion"yang dikorbankan untuk melindungi dan menyelamatkan sang raja.

Begitulah,dalam dunia catur raja adalah sosok yang lebih banyak bersembunyi daripada bekerja.Semua boleh berguguran,tetapirajaharusdise
lamatkan. Bagaimanakah kisah selanjutnya? Siapa lagi tokoh yang tampil? Hanya sang dalang yang tahu.Apa makna di balik semua itu?

"Di sana gunung,di sini gunung, di tengah-tengahnya Pulau Jawa. Dalangnya bingung, lha dalah wayangnya lebih bingung, tetapi Anda tidak boleh tertawa."Opera ini tidak boleh berkepanjangan. Harus ada keberanian untuk menghentikan agar bangsa Indonesia selamat dari kehancuran. Semoga pembaca adalah salah satunya.● ABDUL MU'TI Sekretaris PP Muhammadiyah, Dosen IAIN Walisongo, Semarang

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/412723/


Berbagi berita untuk semua

http://goo.gl/KKHti

http://goo.gl/fIWzb



__._,_.___


http://media-jambi.blogspot.com



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

9.7.11

[media-jambi] Anak Lereng Merapi Belajar Kerja Media



Anak Lereng Merapi Belajar Kerja Media
http://www.radarjogja.co.id/berita/metropolis/19210-anak-lereng-merapi-belajar-kerja-media.html

JOGJA -

Sejumlah anak yang tergabung dalam Forum Anak Dusun Turgo Purwobinangun Pakem, mengunjungi Kantor Radar Jogja, kemarin (7/7). Kunjungan tersebut merupakan salah satu dari rangkaian acara pelatihan peliputan berita yang diadakan oleh Dusun Turgo, bekerja sama dengan Yayasan AKSARA. "Kegiatan ini merupakan bentuk trauma healing bagi anak-anak di kawasan KRB III Turgo, Purwobinangun, Pakem (Sleman), dan sudah berlangsung sejak Januari 2011 lalu," kata Sugeng, wakil dari rombongan.
Ketua Forum anak, Danang menyatakan bahwa kunjungan ini juga bertujuan sebagai media pembelajaran tentang kerja industri media, tertutama mengenai bagaimana proses penyajian berita. "Diharapkan ada bekal untuk menjadi wartawan yang baik nantinya," ujar Danang.
Rombongan yang tiba di kantor Radar Jogja pada pukul 10.30 WIB tersebut diterima di ruang redaksi Radar Jogja oleh Manajer Pemasaran Radar Jogja Agung Cahyo Nugroho. Di hadapan rombongan itu, Agung menjelaskan mengenai proses kerja sebuah media cetak, mulai dari proses pencarian berita hingga naik cetak. Selain itu, Agung juga menjelaskan mengenai sumber pembiayaan suatu koran. (mg4)


Berbagi berita untuk semua

http://goo.gl/KKHti

http://goo.gl/fIWzb



__._,_.___


http://media-jambi.blogspot.com



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___