| Fox News Ketika Imam Feisal Abdul Rauf, tokoh di balik rencana pembangunan pusat komunitas Islam di dekat bekas menara World Trade Center (WTC), New York, datang ke Jakarta, November tahun lalu, ia sempat mengeluh soal bagaimana pusat komunitas itu bisa mendadak berubah jadi "masjid" ketika diberitakan di media Amerika. Padahal, kata Feisal, itu bukan masjid. Gedung yang rencananya berlantai 13 itu akan terdiri dari ruang rapat, perpustakaan, auditorium, ruang fitness, lapangan basket, restoran, ruang pertunjukan teater, bioskop mini, dan kolam renang. "Hanya dua lantai yang jadi tempat salat," katanya. Selain berubah menjadi masjid, lokasi komunitas itu juga diberitakan berpindah. Pusat komunitas itu kerap diberitakan akan berada di Ground Zero atau bekas tempat menara WTC yang diserang teroris. Padahal, lokasi sesungguhnya berjarak dua blok dari sana. Menurut Feisal, praktek disinformasi itu dipimpin Fox News, televisi kabel milik pengusaha media Ruport Murdoch. "Begitulah pekerjaan Fox. Mereka membakar emosi warga, mem-brand kami. Proyek itu disebut Masjid Ground Zero, dan saya tiba-tiba disebut Imam Ground Zero," ujarnya kepada Gatra. Feisal bukan satu-satunya pihak yang menganggap Fox sengaja melakukan disinformasi. Ada studi yang mengindikasikan hal itu, bahkan sejak beberapa tahun lalu. Pada 2003, misalnya, Universitas Maryland menganalisis pemahaman warga Amerika mengenai invasi ke Irak dengan mengajukan tiga pertanyaan. Apakah Saddam Hussein terlibat Al-Qaeda? Apakah Irak memiliki senjata pemusnah massal (WMD)? Dan apakah dunia internasional mendukung serbuan Amerika ke Irak? Responden juga diminta menyebutkan nama media --baik TV, radio, maupun koran-- yang dijadikan acuan untuk mendapatkan informasi. Hasilnya, survei itu menyimpulkan, mereka yang mengandalkan Fox News adalah kelompok yang paling sering dianggap salah memberikan informasi. Sebanyak 80% penonton Fox percaya terhadap satu atau lebih "fakta" bahwa Saddam Hussein terlibat Al-Qaeda, Irak memiliki senjata pemusnah massal, dan dunia internasional mendukung invasi ke Irak. Kredibiltas tertinggi justru didapat jaringan TV publik PBS (Public Broadcasting System) dan radio NPR (National Public Radio), dengan 77% konsumennya menjawab akurat bahwa tiga pertanyaan itu benar-benar omong kosong. *** Nama Fox News kembali muncul dalam dua studi mengenai perilaku media dan penyesatan informasi yang dirilis belum lama ini. Studi pertama masih dilakukan Universitas Maryland dan dipublikasikan pada Desember lalu. Kali ini, Maryland menganalisis pemahaman warga Amerika terhadap topik yang lebih beragam, mulai pemilu legislatif, program stimulus ekonomi Obama, hingga isu pemanasan global. Hasilnya, penonton Fox News masih tetap memegang rekor sebagai kelompok yang paling parah pengetahuannya terhadap informasi. Sebanyak 91% beranggapan bahwa program stimulus ekonomi itu hanya menciptakan sedikit lapangan kerja atau justru menghilangkan lapangan kerja yang telah ada. Sebanyak 61% secara ngawur berpendapat bahwa mayoritas ilmuwan sepakat tidak ada pemanasan global. Dan yang menggelikan, sebanyak 41% penonton Fox News tidak yakin apakah Obama lahir di Amerika, karena soal itu tidak jelas. Padahal, Obama lahir di Hawaii, salah satu negara bagian di Amerika Serikat. Studi kedua yang juga menyinggung Fox News dilakukan Public Religion Research Institute dan Religion News Service (PRRI/RNS), yang dipublikasikan pada pertengahan Februari lalu. Topik yang diteliti lebih sensitif, yakni hubungan antara perilaku media dan persepsi terhadap warga muslim Amerika. Survei PRRI/RNS itu menemukan berbagai hasil mengejutkan mengenai relasi media dan persepsi penonton TV tentang muslim Amerika. Sebanyak 48% penonton setia CNN, misalnya, menganggap muslim Amerika sering dijadikan sebagai target dan diperlakukan secara tidak adil oleh aparat hukum. Angka ini lebih tinggi di kalangan penonton PBS, dengan 57% yang sepakat. Sebaliknya, mayoritas penonton Fox membantah persepsi itu. Mereka menganggap muslim Amerika diperlakukan sama seperti warga negara yang lain. Hanya sebagian kecil, 16%, yang mengakui bahwa muslim Amerika kerap mendapat perlakuan tidak adil dari aparat. Tapi, ketika ditanya "apakah menurut Anda muslim Amerika berniat menerapkan hukum syariat", sangat sedikit penonton PBS (cuma 9%) yang mempercayai hal itu. Sedangkan penonton CNN yang percaya mencapai 18%. Di lain pihak, 35% penonton Fox percaya bahwa warga muslim Amerika berniat menerapkan syariat Islam di sana. Ironi terbesar adalah ketika responden ditanya apakah mereka merasa cukup mengenal Islam, kepercayaan dan ajaran-ajarannya. Lebih dari separuh penonton Fox (51%) menyatakan bahwa mereka mengenal Islam. Penonton CNN yang menyatakan demikian hanya 41%, sedangkan penonton PBS lebih rendah lagi, hanya 31%. Dalam kesimpulannya, survei itu menyatakan, terdapat korelasi positif tentang tingkat kepercayaan terhadap Fox News dan perilaku negatif terhadap muslim. Warga Amerika yang mempercayai Fox News cenderung beranggapan bahwa muslim Amerika akan menerapkan hukum syariat tidak berbuat banyak untuk menanggulangi ekstremisme di kalangan mereka sendiri dan beranggapan bahwa penyelidikan terhadap radikalisme Islam adalah hal positif. "Yang kami lihat di sini adalah dampak signifikan Fox News," kata Daniel Cox, Direktur Riset PRRI, kepada koran USA Today. Mengenai poin bahwa penonton Fox News merasa lebih mengenal Islam dibandingkan dengan penonton CNN atau PBS, Cox menjelaskan bahwa anggapan itu tidak dengan sendirinya akurat. "Mereka hanya lebih yakin dengan pandangannya sendiri," ia menjelaskan. *** Di luar studi resmi, sebenarnya banyak jurnalis yang mengecam pemberitaan Fox yang cenderung garang dan sayap kanan itu. Adam Serwer dalam kolomnya di blog Washington Post, misalnya, mencatat bahwa pemberitaan Fox tentang Islam sering diisi tema seperti: sebagian besar masjid di Amerika mengalami radikalisme, pemerintahan Obama telah disusupi Ikhwanul Muslimin, muslim Amerika hendak menerapkan syariat Islam, pusat komunitas dekat Gound Zero didanai teroris, atau Eropa rentan menjadi wilayah kekhalifahan Islam saking banyaknya imigran muslim di sana. Geraldine Sealey, editor situs Salon.com, memberi contoh lain. Pada 2004, Menteri Pertahanan Amerika Serikat ketika itu, Donalds Rumsfeld, memberikan konferensi pers mengenai serangan ke Fallujah, Irak. Hampir semua media Amerika hadir, termasuk CNN. Dalam siaran berita, CNN menayangkan gambar Rumsfeld yang berdiri di podium dan memberi teks di layar: "Rumsfeld: Menteri Pertahanan". Sedangkan Fox, yang menayangkan gambar serupa, memberi teks: "Rumsfeld: Musuh Kebebasan Menyiapkan Pertempuran Terakhir". Belakangan diketahui, Amerika ternyata juga menggunakan senjata fosfor putih di Fallujah yang tidak disinggung sama sekali di Fox dan sebagian besar media mainstream di sana. Sementara itu, media Italia dan Inggris, seperti BBC dan The Independent, terang-terangan menulis penggunaan bahan kimia fosfor itu. Beberapa situs yang fokus pada perilaku media, seperti mediamatters.org atau thinkprogressive.org, bahkan memiliki dokumentasi lengkap tentang penyesatan informasi yang dilakukan Fox. Peter Johnson, analis hukum Fox, misalnya, mengatakan, "banyak pakar" yang telah sampai pada kesimpulan bahwa Islam tidak kompatibel dengan demokrasi. Brian Kilmeade, pembawa acara Fox, melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa tragedi 9/11 tidak dilakukan oleh sekelompok orang. "Pelakunya adalah sebuah agama. Tidak semua muslim adalah teroris, tapi semua teroris adalah muslim," katanya. Sedang Billy O Reily, host untuk acara talkshow "The O'Reilly Factor" yang disiarkan Fox tiap Senin-Jumat, lebih dulu membangun reputasi ketika berkata betapa konyolnya kalau tahanan di Guantanamo mendapatkan hak didampingi pengacara. Dan selama revolusi yang melanda Tunisia, Mesir, lalu Libya, "golden boy" Fox itu juga memulai perang baru, yakni melawan Al-Jazeera berbahasa Inggris yang ditudingnya sebagai "media propaganda anti-Amerika" dan "anti-Semit", terutama setelah sejumlah jurnalis TV seperti Sam Donaldson dari ABC secara terbuka memuji Al-Jazeera untuk liputan Mesir yang dianggap lebih unggul dibandingkan dengan liputan media Amerika --padahal,Al-Jazeera masih suilit menembus pasar Amerika. Ide baru O'Reilly untuk meramaikan liputan mengenai revolusi Timur Tengah, antara lain, dilakukan dengan membuat polling baru di situsnya tentang "Negara Timur Tengah mana yang pemerintahannya paling setan? Jawabannya pilih salah satu: Iran, Suriah, Libya, atau Arab Saudi. Padahal, Libya terletak di Afrika Utara, bukan Timur Tengah. Penyesatan informasi yang dilakukan Fox mungkin tidak akan berdampak serius seandainya ia cuma stasiun TV kecil dengan jangkauan terbatas. Namun, sejak tragedi 9/11, Fox terus mendominasi TV kabel berita dan berhasil unggul dengan menjual nasionalisme sayap kanan. Data pada kuartal terakhir 2010 dari Nielsen menunjukkan, Fox masih ditonton oleh sekitar 1,8 juta orang per hari, jauh meninggalkan urutan kedua (MSNBC) dengan 687.000 penonton dan urutan ketiga (CNN) yang makin terpuruk dengan cuma 512.000 penonton per hari. Kombinasi penonton MSNBC dan CNN bahkan masih kalah dari jumlah penonton Fox. Padahal, media ikut membentuk pola pikir masyarakat. Sebuah media besar yang justru membuat penontonnya bingung di mana presidennya lahir juga akan bertanggung jawab atas kondisi masyarakatnya. Basfin Siregar [Media, Gatra Nomor 18 Beredar Kamis, 10 Maret 2011] http://gatra.com/artikel.php?
|
__._,_.___




0 komentar:
Poskan Komentar