KAWAN MOHON BANTUANNYA untuk menyebarluaskan publikasi artikel, puisi, video, karya rupa di blog lenteradiatasbukit dan page fb Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit(kerja.pembebasan) ini dalam rangka sebulan penuh memperingati ulang tahun Wiji Thukul 26 Agustus dan hari Anti Penghilangan Paksa Internasional yang jatuh pada tanggal 30 Agustus. ditunggu juga kontribusinya. salam hangat, salam pembebasan Galeri Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) mempersembahkan 50 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau sekedar ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul) hingga 24 Agustus (hari lahinya). Kami juga mengundang anda untuk turut menyumbangkan karya rupa, puisi, artikel dan catatan pendek anda. Anda juga dapat membagikan foto-foto kenangan, video melalui page berikut ini : Tribute to Wiji Thukul atau di blog lenteradiatasbukit mulai hari ini hingga akhir bulan untuk artikel, puisi dan karya rupa Bila tidak ada halangan kami merencanakan melakukan pameran 'gerilya' di sekitar tanggal kelahiran Wiji Thukul nanti. Kami mengundang pula kawan-kawan untuk melakukan berbagai inisiatif terkait gagasan Tribute to Wiji Thukul ini. Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus sebagai kado untuk peringatan proklamasi kemerdekaan dan tentunya kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. NARASI WIJI THUKUL tujuan kita satu ibu : pembebasan disini kubaca kembali : sejarah belum berubah! tanah air digadaikan masa depan rakyat di gelapkan (dan) derita sudah naik ke leher kau menindas sampai di luar batas (dan) derita sudah matang bahkan busuk tetap ditelah? maka hanya ada satu kata : lawan! kita tidak sendirian kita satu jalan tujuan kita satu ibu : pembebasan satu mimpi, satu barisan (maka) jika kami bunga engkau adalah tembok itu telah kami sebar biji-biji suatu saat kami akan tumbuh bersama dengan keyakinan : engkau akan hancur! kutundukkan kepalaku kepada semua kalian para korban sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk kepada penindas tak pernah aku membungkuk aku selalu tegak (petikan2 puisi Wiji Thukul : kuburan purwoloyo, bunga dan tembok, peringatan, tujuan kita satu ibu, derita sudah naik seleher, busuk dan momok hiyong) Hanya satu kata, lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya sata kata, lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otorritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan (Munir) Membaca puisi Wiji Thukul adalah membaca ottobiografi kejiwaan penyair. Dia menceritakan nasib jutaan rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan yang terlalu menguntungkan kaum elitnya (Arif Budiman) Wiji sudah selayaknya mendpt penghargaan pertama-tama dan utama atas apa yang dilakukannya dalam pemajuan dan perlindungan hak azasi manusia. Penghargaan ini juga menjadi lonceng peringatan bagi kita semua bahwa penghilangan orang secara paksa adalah kejahatan yang masih berlangsung. Lonceng yang mengingatkan bahwa kita semua berutang kepada keluarga, sahabat, dan kekasih dari orang yang dihilangkan di negeri ini. Tentulah jangan dilupakan bahwa yang paling berutang adalah negara, terutama pemerintah (Asmara Nababan, Kompas 11/12/2002) Mengenal Lebih Jauh Wiji Thukul (Artikel, Video dan Karya) |
__._,_.___




0 komentar:
Poskan Komentar